
Jakarta, majalahparlemen.com — Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, merilis buku reflektif bertajuk “Melanglang Buana, Menyemai Janabijana” yang menjadi penanda 200 hari kerja Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI), di Jakarta, Selasa (27/5/2025).
Buku setebal delapan bab ini bukan sekadar kumpulan laporan kinerja, tetapi merupakan catatan perjalanan dan evaluasi menyeluruh sejak KemenP2MI dibentuk di bawah Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Peluncuran ini sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban moral dan administratif kepada publik.
“Sebagai kementerian baru, 200 hari ini kami manfaatkan untuk menyusun fondasi pelindungan yang berempati, bukan sekadar administratif. Ini bukan soal tumpukan kertas dan cap, tapi soal nurani,” ujar Karding.
Salah satu capaian utama yang ditekankan Karding adalah penyelesaian 567 pengaduan pekerja migran dalam kurun waktu enam bulan terakhir melalui sistem perlindungan 24 jam. Sistem ini bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri, atase ketenagakerjaan, hingga organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia.
Karding menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam melindungi pekerja migran, mulai dari tahap perekrutan, penempatan, hingga kepulangan mereka ke tanah air. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan life cycle.
“Kami hadir 24 jam. Pengaduan yang masuk langsung ditindaklanjuti sesuai SOP yang kami susun bersama mitra strategis di luar negeri,” tambahnya.
Tak hanya soal respons cepat terhadap pengaduan, KemenP2MI juga aktif melakukan pembenahan terhadap perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI) yang dinilai tidak sehat. Penindakan tegas dilakukan sebagai upaya membangun ekosistem pelindungan migran yang lebih aman dan profesional.
“Perusahaan penempatan yang tidak mematuhi aturan akan kami beri sanksi. Ekosistem yang sehat adalah kunci pelindungan yang kuat,” tegas Karding.
Buku “Melanglang Buana, Menyemai Janabijana” terdiri dari delapan bab yang masing-masing menggambarkan aspek berbeda dari perlindungan pekerja migran. Bab-bab tersebut antara lain: Menyulam Harapan, Menjaga di Ujung Dunia, hingga Pergi Migran, Pulang Juragan.
Melalui buku ini, Karding ingin menunjukkan bahwa setiap langkah pekerja migran Indonesia adalah benih kehidupan yang ditanam di negeri orang, namun berakar di tanah air.
“Kami jaga kamu. Kami saling jaga. Wajah kementerian ini bukanlah birokrasi kaku, tapi pelindung yang tahu caranya mencintai dengan kerja nyata,” pungkas Menteri Karding. *** (raihan/sap)





















































