
Anggota DPD RI, Gus Hilmy menegaskan, ulama perlu berperan aktif merespons persoalan lingkungan dan sosial dalam Halaqah Nilai-nilai Keulamaan Pesantren di Kota Pekalongan.
Kota Pekalongan, majalahparlemen.com — Persoalan lingkungan seperti pencemaran sungai, pengelolaan sampah, polusi udara, hingga dampak limbah terhadap kesehatan masyarakat semakin menjadi tantangan di berbagai daerah. Di tengah kondisi tersebut, peran tokoh agama dinilai tidak hanya terbatas pada pembinaan ibadah, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap persoalan sosial yang langsung dirasakan masyarakat.
Pandangan itu mengemuka dalam Halaqah Nilai-nilai Keulamaan Pesantren bertema “Membaca Etnografi Ulama Pesantren sebagai Episentrum Keilmuan dan Peradaban di Nusantara” yang diselenggarakan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan bekerja sama dengan Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Islam Negeri KH Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur), di Kota Pekalongan, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan itu diikuti pengasuh pondok pesantren, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Badan Koordinasi (Badko) TPQ, serta sejumlah tokoh pesantren. Forum tersebut membahas peran ulama dalam menjawab tantangan sosial, pendidikan, dan perubahan zaman.
Baca juga :
Gus Hilmy: Sudah Saatnya Negara Perlakukan Pesantren Sebagai Pilar Utama Pendidikan Nasional
Dalam kesempatan itu, Anggota DPD RI asal Provinsi DIY, Dr. H. Hilmy Muhammad atau Gus Hilmy mengatakan, tanggung jawab ulama mencakup fungsi ri’ayah atau pengayoman terhadap umat, termasuk dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Gus Hilmy yang juga salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tersebut, mencontohkan, kondisi di Pekalongan yang menghadapi persoalan sampah, pencemaran sungai, polusi udara, serta limbah. Menurutnya, organisasi keagamaan dan para kiai perlu memberikan perhatian terhadap isu-isu tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
Menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY tersebut, kepedulian terhadap persoalan kemasyarakatan merupakan bentuk keteladanan ulama. Ia mengibaratkan peran tersebut seperti seorang kiai yang membangunkan santri untuk salat subuh, yakni menjaga dan membimbing umat dalam berbagai aspek kehidupan.
Baca juga :
LaNyalla Dorong Pesantren Perkuat Ketahanan Moral Generasi Muda
Selain isu lingkungan, Gus Hilmy menyoroti pentingnya pesantren membangun sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas sebagai muslim Indonesia. Menurutnya, hubungan antara kiai dan santri tidak sekadar relasi guru dan murid, melainkan hubungan kekeluargaan yang dibangun melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Gus Hilmy yang juga Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, mengkritisi penggunaan istilah “pesantren tradisional” dan “pesantren modern” yang selama ini kerap didasarkan pada kitab yang diajarkan. Menurutnya, pesantren yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman dan beradaptasi terhadap perubahan justru menunjukkan karakter modern.
Dalam paparannya, Gus Hilmy juga menyebut kiai memiliki fungsi sebagai cultural broker yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisi Islam dengan perkembangan pemikiran modern sehingga keduanya dapat dipahami masyarakat secara kontekstual.
Sementara itu, Rais Syuriyah PBNU, KH Abdul Ghofur Maimoen, menekankan bahwa seorang ulama perlu memiliki tiga dimensi utama, yakni keilmuan, spiritualitas, dan nilai keteladanan. Ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang mengibaratkan ulama sebagai dokter bagi umat sehingga kualitas pribadi ulama menjadi bagian penting dalam membimbing masyarakat.
Rois Syuriyah PCNU Kota Pekalongan, KH Hasan Suaidi mengatakan, halaqah tersebut sejalan dengan upaya PBNU menyusun Piagam Keulamaan sebagai pedoman bagi ulama, santri, dan masyarakat dalam memahami karakter serta nilai-nilai dasar keulamaan.
Dalam forum yang sama, Ketua RMI PBNU, KH Hatim Ghozali memaparkan tantangan dakwah di era digital. Berdasarkan hasil survei yang dipaparkannya, terdapat kecenderungan menurunnya keterikatan Generasi Z terhadap institusi keagamaan. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan bagi pesantren untuk mengembangkan strategi dakwah yang lebih adaptif agar nilai-nilai keulamaan tetap relevan bagi generasi muda. *** (raihan/sap)



















































