Gus Hilmy Dukung Kampung Tematik NU, Sinergi Potensi Lokal dan Budaya Spiritual

Yogyakarta, majalahparlemen.com — Senator DPD RI dari Provinsi DI Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. atau akrab disapa Gus Hilmy, menyuarakan dukungan penuh terhadap pembentukan kampung tematik berbasis potensi lokal dan nilai-nilai budaya Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat akar rumput.

“Kampung tematik ini harus mencerminkan kampung yang berbudaya luhur, nyaman ditinggali, dan menjadi cermin kearifan lokal kita. Mari perlihatkan jati diri kita melalui unggah-ungguh, tepa selira, dan tata krama,” ujar Gus Hilmy dalam dialog di Kantor DPD RI Provinsi Yogyakarta, Kamis (31/7/2025).

Dalam pertemuan tersebut, hadir pula perwakilan Bappeda DIY, para akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, serta tokoh-tokoh NU yang tergabung dalam tim penyusun awal dokumen kampung tematik. Ketua PCNU Kota Yogyakarta, KH. Yazid Affandi, menekankan bahwa kampung tematik harus menjadi ruang hidup yang tidak sekadar ramah secara fisik, tetapi juga membangun ekosistem sosial dan spiritual yang menyejukkan.

Senada, Danang Yulisaksono dari Bappeda Kota Yogyakarta menyebut, pengembangan kampung tematik dirancang melalui pentahelix collaboration, yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, komunitas, dan masyarakat kampung.

“Kami telah menjalin kerja sama dengan 47 perguruan tinggi di DIY guna memperkuat program ini melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi,” jelas Danang. Kolaborasi ini diharapkan dapat mengintegrasikan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat secara konkret dan terukur dalam pengembangan wilayah.

Direktur Laboratorium Sosial UNU Yogyakarta, Saeroni, menyoroti pentingnya penyusunan roadmap dan pemetaan kampung yang berbasis data. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa UNU akan diberdayakan untuk terlibat langsung di lapangan sebagai bagian dari pengabdian nyata kepada masyarakat.

“Kita harus tahu data akurat tentang warga NU, potensi ekonomi, budaya, hingga tantangan sosial di setiap kampung. Dari situ, konsep tematik bisa lebih presisi dan membawa dampak riil,” paparnya.

Program kampung tematik juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk jejaring politik, organisasi sipil, dan tokoh lokal. Gus Hilmy menegaskan bahwa keberlanjutan inisiatif ini tidak boleh semata bertumpu pada anggaran pemerintah.

“APBD penting, tapi komitmen komunitas jauh lebih penting. Kita perlu membangun sistem yang mandiri dan berdaya dari bawah,” tegasnya.

Kesepakatan bersama di akhir kegiatan menegaskan bahwa keberhasilan kampung tematik akan sangat ditentukan oleh pendekatan partisipatif, keberpihakan pada masyarakat kecil, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.

Inisiatif ini dinilai mampu menjadi model pembangunan wilayah yang inklusif, berbasis potensi lokal, dan mencerminkan nilai spiritualitas warga Nahdliyin. Sebuah langkah konkret untuk mewujudkan kampung sebagai pusat peradaban kecil yang manusiawi, berbudaya, dan mandiri. *** (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *