Harga Minyak Tembus US$90, Tekanan ke ICP Indonesia Meningkat

Harga minyak Brent menembus US$90 per barel di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran. Proyeksi ICP Agustus Indonesia kini menghadapi tekanan kenaikan.

Jakarta, majalahparlemen.com — Harga minyak dunia kembali melonjak di tengah ketidakpastian pasokan global akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia karena pemerintah memperkirakan harga rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) Agustus 2026 berada di atas capaian bulan sebelumnya.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi salah satu acuan utama pasar global, naik 2,7 persen menjadi US$90,87 per barel dalam perdagangan Senin (17/8/2026), menurut Associated Press (AP).

Pergerakan itu menunjukkan pasar minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Sepanjang Juli, harga Brent bergerak dalam rentang US$72 hingga US$102 per barel seiring perubahan ekspektasi mengenai hubungan Amerika Serikat dan Iran serta kemungkinan terganggunya lalu lintas kapal tanker dari kawasan Teluk Persia.

Di dalam negeri, pemerintah menetapkan rata-rata ICP Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel. Angka tersebut turun US$1,77 dari ICP Juni yang mencapai US$83,45 per barel.

Penetapan ICP Juli tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 319.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juli 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengatakan, penurunan ICP pada Juli terjadi setelah pasar minyak global menyesuaikan diri dengan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan membaiknya pasokan.

Data Kementerian ESDM menunjukkan, rata-rata harga Brent pada Juli turun dari US$84,43 menjadi US$83,97 per barel. Pada periode yang sama, West Texas Intermediate (WTI) turun dari US$81,79 menjadi US$79,22 per barel, sementara Dated Brent turun dari US$85,47 menjadi US$83,41 per barel.

Untuk Agustus, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi memperkirakan ICP berada pada kisaran US$83-US$87 per barel. Proyeksi tersebut sudah lebih tinggi dibandingkan realisasi ICP Juli.

Laode mengatakan, perkiraan tersebut masih bergantung pada sejumlah faktor, antara lain perkembangan geopolitik, potensi eskalasi militer dan perubahan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Pemerintah masih memantau pergerakan pasar internasional sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.

Kenaikan Brent menjadi US$90,87 per barel pada 17 Agustus 2026 menambah tekanan terhadap proyeksi ICP Agustus. Namun, harga Brent dalam satu sesi perdagangan tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan kenaikan ICP bulan tersebut.

Perbedaannya terletak pada mekanisme penghitungan. Brent merupakan harga minyak acuan yang bergerak setiap saat di pasar internasional, sedangkan ICP Indonesia mencerminkan perkembangan harga minyak selama periode tertentu. Karena itu, ICP Agustus baru dapat diketahui setelah keseluruhan periode penghitungan selesai.

Dampak kenaikan harga minyak juga terlihat di pasar keuangan Amerika Serikat. S&P 500 turun 0,5 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,5 persen dan Nasdaq Composite turun 0,3 persen pada perdagangan Senin. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga meningkat dari 4,68 persen menjadi 4,72 persen.

Menurut AP, kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi karena energi merupakan salah satu komponen biaya yang memengaruhi aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat apabila tekanan inflasi bertahan.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak global memiliki implikasi terhadap biaya impor energi dan perhitungan ICP. Namun, dampaknya terhadap konsumen tidak serta-merta diteruskan melalui kenaikan harga BBM bersubsidi.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan, pemerintah mempertahankan harga BBM dan LPG subsidi hingga akhir 2026, termasuk apabila ICP mencapai US$100 per barel.

Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan pada satu jalur pasokan. Kementerian ESDM menyebut sumber impor minyak kini didiversifikasi dari sejumlah kawasan, termasuk Afrika, Amerika dan Rusia, selain sumber dari Timur Tengah. *** (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *