
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan berstatus Level III. Simak jejak aktivitas dan letusannya sejak 1927 hingga erupsi 2026.
Jakarta, majalahparlemen.com — Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas vulkanik gunung api di Selat Sunda itu bahkan disertai dentuman yang terdengar dari Pos Pantau Pasauran pada Sabtu malam (5/9/2026).
Erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga laporan ini dibuat pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.31 WIB.
Dampak erupsi juga meluas ke ruang udara. Sebaran abu vulkanik membuat AirNav Indonesia memperbarui NOTAM dan melakukan penutupan sementara di sejumlah bandara demi keselamatan penerbangan.
Tiga bandara yang terdampak dan ditutup sementara adalah Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (WIII), dan Bandara Radin Inten II Lampung.
Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api aktif di Selat Sunda, Lampung. Merujuk Badan Geologi Kementerian ESDM, gunung api tipe A ini tergolong muda karena tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah erupsi besar kompleks vulkanik Krakatau pada 1883.
Aktivitas erupsi Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927, ketika tubuh gunung masih berada di bawah laut. Dua tahun kemudian, pada 1929, tubuh gunung mulai muncul ke permukaan dan terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi atau membangun tubuh gunung. Pada September 2018, ketinggian tertingginya tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut. Karakter erupsinya umumnya berupa letusan magmatik eksplosif lemah atau Strombolian, serta erupsi efusif berupa aliran lava.
Aktivitas kembali tercatat pada 20 Juni 2016, kemudian disusul letusan Strombolian pada 19 Februari 2017. Setahun berselang, Anak Krakatau memasuki periode erupsi panjang mulai 29 Juni 2018 hingga akhir tahun. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami Selat Sunda.
Aktivitas vulkanik kemudian terus berlangsung dalam berbagai episode. Karena aktivitas dapat kembali meningkat setelah periode tenang, pemantauan terhadap kegempaan, deformasi, emisi gas, dan aktivitas permukaan menjadi penting untuk mengantisipasi potensi erupsi.
Dengan sejarah aktivitas yang panjang sejak kemunculannya ke permukaan pada 1929, Anak Krakatau hingga kini tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang perlu diwaspadai di kawasan Selat Sunda.
Warisan Letusan Dahsyat Krakatau 1883
Sebelum Anak Krakatau muncul, kawasan tersebut mengalami salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah. Pada Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dengan kekuatan besar. Rangkaian ledakan dimulai sekitar pukul 13.00 pada 26 Agustus dan mencapai puncaknya sekitar pukul 10.00 keesokan harinya.
Ledakan tersebut melontarkan abu hingga sekitar 80 kilometer ke udara. Suaranya bahkan terdengar hingga Australia, ribuan kilometer dari Krakatau.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik membuat sebagian wilayah dunia mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari. Suhu rata-rata global juga disebut turun sekitar 1,2 derajat Celsius, sementara dampak atmosferiknya memengaruhi pola cuaca selama beberapa tahun.
Erupsi 1883 juga mengubah lanskap Selat Sunda. Dari kawasan kaldera Krakatau kemudian muncul Gunung Anak Krakatau yang terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.
Letusan tersebut juga memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 36.000 orang. Ketinggian air tsunami diperkirakan mencapai sekitar 30 meter atau setara dengan tinggi pohon kelapa.
Jejak Erupsi Anak Krakatau 1927–2026
Sejarah aktivitas Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini hampir selalu mengalami fase naik-turun aktivitas. Berikut kronologi erupsi yang dirangkum dari Smithsonian Institution National Museum of Natural History Global Volcanism Program (GVP), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Geologi Kementerian ESDM.
1927–1930
Aktivitas erupsi dimulai pada 29 Desember 1927 dan berlangsung hingga sekitar Agustus 1930. Periode ini menjadi fase awal pembentukan Anak Krakatau. Letusan berupa aktivitas eksplosif, freatik, abu, dan aliran piroklastik.
1931–1932
Pada 23 September 1931 hingga 17 Februari 1932 terjadi letusan yang menghasilkan abu dan lapili, yaitu material atau pecahan batuan vulkanik berukuran seperti kerikil.
1932–1934
Aktivitas eksplosif berlangsung dari 14 November 1932 hingga 9 Juni 1934. Beberapa episode letusan tercatat pada 1933 dan 1934.
1935
Aktivitas berlangsung pada 4 Januari hingga 12 Juli 1935, berupa letusan eksplosif dan freatik.
1936
Letusan eksplosif terjadi pada 13 Oktober hingga 16 November 1936.
1937
Aktivitas eksplosif berlangsung pada 6 Agustus hingga 23 November 1937.
1938–1940
Episode panjang berlangsung sejak 4 Juli 1938 hingga 2 Juli 1940. Aktivitas berupa letusan eksplosif dan freatik, dengan maksimum VEI tercatat 3.
1941–1942
Pada 1941, letusan eksplosif berlangsung pada 28 Januari–12 Februari. Setahun kemudian, letusan eksplosif kembali terjadi pada 29–30 Januari 1942.
1943–1945
Aktivitas atau erupsi tercatat sekitar Juli pada masing-masing tahun 1943, 1944, dan 1945.
1946–1947
Pada 1946 tercatat dua episode, yakni 25 Juli dan sekitar 26 Desember. Episode kedua berlanjut hingga 1947. Pada 1947, aktivitas tersebut berlanjut hingga setidaknya 7 Agustus.
1949–1953
Letusan eksplosif tercatat pada 12 Mei 1949. Pada 3–7 Juli 1950 terjadi letusan yang menghasilkan ledakan dan abu. Letusan eksplosif dan abu kembali terjadi pada 10–11 Oktober 1952. Kemudian, pada 17 Maret–1 Mei 1953, letusan menghasilkan awan erupsi dan abu.
1958–1963
Aktivitas pada 2 Oktober 1958 hingga 25 Juni 1959 menghasilkan abu, blok vulkanik, dan suara letusan. Aktivitas kemudian berlanjut sejak sekitar Desember 1959 hingga Juli 1963. Periode ini ditandai aktivitas eksplosif yang hampir terus-menerus, aliran lava, dan pembentukan kerucut baru.
1969
Terdapat indikasi erupsi, tetapi episode ini dikategorikan uncertain atau tidak pasti.
1972–1975
Pada 10 Juni 1972 hingga 1 Juli 1973, letusan menghasilkan ledakan, abu, bom vulkanik, lapili, dan aliran lava yang mencapai laut. Aktivitas kembali terjadi pada 27 Maret–26 Oktober 1975. Letusan eksplosif disertai aliran lava, termasuk lava yang mencapai laut.
1978–1981
Aktivitas berlangsung sejak 10 Juli 1978 hingga sekitar November 1979. Letusan menghasilkan tefra, bom vulkanik, dan aliran lava. Pada 1978, ledakan terjadi berkala setiap 15–30 menit sebelum kemudian melambat. Pada 1980, aktivitas eksplosif disertai abu dan aliran lava berlangsung dari Maret hingga Desember. Setahun kemudian, pada 24 April–20 Oktober 1981, letusan menghasilkan abu dan lontaran blok vulkanik.
1988
Pada Februari–April 1988, letusan terjadi di sisi selatan kerucut dan menghasilkan dua aliran lava serta abu.
1992–1999
Pada 7 November 1992 hingga Oktober 1993, letusan menghasilkan lava, abu, dan lontaran material. Lava mengalir hingga laut. Pada awal erupsi 1992, aktivitas gempa meningkat tajam. Aktivitas eksplosif, abu, dan lontaran blok terus berlangsung pada 19 Maret 1994 hingga Juni 1995. Pada Juli–Oktober 1996 terjadi letusan yang disertai lava fountain, aliran lava hingga laut, abu, dan bom vulkanik. Pada Maret–Mei 1997, letusan eksplosif menghasilkan abu, bom, dan blok vulkanik. Aktivitas sporadis kembali terjadi pada Februari–Agustus 1999, berupa abu, bom, dan suara ledakan. Aktivitas ini merupakan kelanjutan dari rangkaian yang dimulai sejak 1992.
2000–2001
Pada 29 Mei–Oktober 2000, terjadi letusan eksplosif disertai abu dan gempa vulkanik. Setahun kemudian, pada 21 Juli–September 2001, aktivitas ditandai ledakan, abu, dan peningkatan kegempaan. Salah satu episode mencatat ratusan gempa vulkanik dangkal.
2002–2006
Pada 2002–2004 tidak tercatat periode erupsi besar, tetapi terjadi beberapa peningkatan kegempaan dan aktivitas vulkanik. Pada 2005–2006 juga terjadi peningkatan kegempaan pada beberapa periode, meski erupsi tidak terkonfirmasi.
2007–2009
Pada 23 Oktober 2007 hingga Agustus 2008, terjadi letusan kecil hingga sedang yang menghasilkan abu, lontaran material, dan lava. Pada Oktober 2007, status gunung dinaikkan menjadi Level III atau Siaga. Pada Maret–September 2009, aktivitas meningkat tajam. Pada 25 Maret 2009 tercatat 19 erupsi. Aktivitas berlanjut selama berbulan-bulan dan status sempat dinaikkan ke Level III.
2010–2012
Aktivitas vulkanik masih tercatat pada 2010–2011, termasuk fase erupsi ringan dan peningkatan kegempaan. Pada September 2012, erupsi menghasilkan abu dan aliran lava yang mencapai laut.
2013–2015
Aktivitas cenderung lebih rendah. Yang tercatat terutama berupa hembusan, kegempaan, dan anomali vulkanik. Tidak ada episode erupsi besar yang tercatat dalam periode ini.
2016–2017
Anak Krakatau kembali mengalami letusan pada 20 Juni 2016. Pada 19 Februari 2017, letusan Strombolian menghasilkan material vulkanik dan aliran lava.
2018
Aktivitas meningkat tajam sejak 29 Juni dan berlangsung hingga Desember 2018. Rangkaian erupsi berupa aktivitas Strombolian, lava, dan lontaran material. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami Selat Sunda.
2019–2020
Aktivitas berlanjut setelah tsunami 2018, terutama berupa letusan Surtseyan, abu, dan uap. Pada September–Oktober 2019 kembali tercatat sejumlah erupsi. Pada 2020, erupsi masih berlangsung hingga April. Salah satu letusan tercatat pada 15 Januari 2020 pukul 10.18 WIB. Setelah April, aktivitas erupsi mereda meskipun anomali panas masih terdeteksi.
2021–2023
Episode erupsi baru dimulai pada 25 Mei 2021, ditandai kolom abu dan anomali panas hingga November. Aktivitas meningkat sejak akhir 2021. Pada 3 Februari 2022 abu mulai terlihat dan pada 4 Februari tercatat sembilan kali letusan. Aktivitas berlanjut hingga April, termasuk aliran lava baru pada 23 April 2022. Rangkaian erupsi kemudian berlanjut hingga 20 Juli 2023, dengan ledakan, kolom abu, dan aktivitas Strombolian. Pada 2023, aktivitas kembali tercatat pada September–Desember. Letusan, abu, bom vulkanik, dan kegempaan kembali terjadi. Beberapa erupsi spesifik tercatat pada 23, 24, 26, dan 27 Januari 2023.
2024
Episode erupsi sebelumnya berakhir sekitar 20 Februari 2024, dengan aktivitas minor yang masih teramati pada Februari.
2026
Aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat sejak 1 Juni 2026, ditandai emisi SO₂ dan anomali panas.Titik api muncul pada 10 Juni. Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter. Status gunung kemudian dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Erupsi berlanjut sepanjang Juli–Agustus, dengan kolom abu mencapai ratusan meter.
Pada awal September 2026, aktivitas kembali menunjukkan peningkatan. Erupsi menerus berlangsung sejak 4 September dan berdampak pada sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah serta ruang udara di sekitarnya.
Hampir satu abad setelah aktivitas erupsinya pertama kali tercatat, Anak Krakatau masih terus tumbuh dan menunjukkan aktivitas vulkanik. Jejak tersebut memperlihatkan satu pola penting: Anak Krakatau bukan gunung api yang berhenti setelah satu episode letusan. Ia terus berubah, membangun tubuhnya, mengalami masa tenang, lalu kembali aktif.
Karena itu, sejarah hampir satu abad tersebut bukan sekadar catatan letusan. Ia menjadi pengingat bahwa pemantauan dan kesiapsiagaan tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi aktivitas Anak Krakatau di Selat Sunda. *** (raihan/sap)


















































