GKR Hemas Ingatkan Generasi Muda Jaga Identitas Bangsa di Tengah Perubahan Global

Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas menilai Indonesia tidak kekurangan generasi muda cerdas. Tantangan utama saat ini adalah melahirkan pemimpin berkarakter yang tetap berpegang pada nilai budaya bangsa di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi.

Jakarta, majalahparlemen.com — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya manusia yang kompetitif secara global, penguatan karakter kepemimpinan dinilai menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Kemajuan pendidikan dan penguasaan teknologi dinilai belum otomatis menghasilkan pemimpin yang memiliki integritas dan pemahaman kuat terhadap identitas kebangsaan.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas saat membuka National Leadership Camp 2026 di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia, Jakarta, Sabtu (20/6/2026). Menurutnya, Indonesia saat ini tidak mengalami kekurangan generasi muda yang cerdas maupun memiliki kemampuan akademik yang baik.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia juga tidak kekurangan orang yang memiliki kemampuan teknis dan akademik yang baik,” kata GKR Hemas di hadapan sekitar 750 peserta yang terdiri atas 300 awardee Rumah Kepemimpinan dan 450 delegasi pemuda dari berbagai organisasi serta perguruan tinggi.

Ia menilai, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan ekonomi maupun teknologi, tetapi juga menyangkut persoalan identitas bangsa. Menurutnya, arus globalisasi, kecerdasan buatan, dan keterbukaan informasi menghadirkan peluang sekaligus risiko terhadap keberlanjutan nilai-nilai budaya nasional.

“Salah satu tantangan terbesar bangsa kita saat ini bukan hanya persoalan ekonomi, bukan hanya persoalan teknologi, melainkan persoalan identitas,” ujarnya.

GKR Hemas mengatakan, kepemimpinan tidak semata-mata dibentuk oleh kecerdasan akademik atau kemampuan menguasai teknologi. Kepemimpinan, menurutnya, bertumpu pada nilai, karakter, dan pandangan hidup yang menjadi dasar seseorang dalam menggunakan kewenangan dan mengambil keputusan.

Ia menekankan bahwa berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan berbangsa, termasuk kasus penyalahgunaan kewenangan dan menurunnya integritas di ruang publik, menunjukkan pentingnya pembangunan karakter yang berjalan seiring dengan pembangunan pendidikan dan ekonomi.

Karena itu, ia mendorong agar penguatan karakter generasi muda dilakukan melalui nilai-nilai budaya yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, seperti gotong royong, musyawarah, tepa selira, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Menurut GKR Hemas, Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggabungkan kecerdasan dengan integritas, kemampuan dengan kepedulian sosial, serta keberanian dengan kebijaksanaan dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinan.

“Yang kita butuhkan adalah generasi yang mampu menggabungkan kecerdasan dengan integritas, kemampuan dengan kepedulian, keberanian dengan kebijaksanaan, berkarakter, dan cinta pada sejarah bangsanya,” katanya.

Ia berharap kegiatan pengembangan kepemimpinan seperti National Leadership Camp dapat melahirkan generasi yang siap bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan identitas kebangsaannya. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, menurutnya, perlu dibarengi dengan pemahaman terhadap budaya nasional sebagai fondasi dalam menghadapi perubahan zaman.

GKR Hemas menambahkan bahwa tantangan yang akan dihadapi generasi muda pada masa mendatang diperkirakan semakin kompleks. Oleh sebab itu, daya saing bangsa perlu dibangun di atas fondasi budaya yang kuat agar kemajuan dapat dicapai tanpa kehilangan jati diri nasional.

“Dalam menghadapi perkembangan global, anak muda selain ditekankan terus maju mengikuti zaman, tetapi tetap harus memegang teguh budayanya sendiri, ini menjadi kekuatan sebagai manusia Indonesia,” ujarnya. *** (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *