Banjir Bandang Nepal-China: 919 Tewas, 4.793 Hilang, Ratusan Pekerja PLTA Belum Ditemukan

Banjir Bhotekoshi dan Trishuli di Nepal menewaskan 903 orang dan membuat 4.247 hilang. Jika digabung dengan korban di Tibet, total tewas 919 dan hilang 4.793 orang.

Kathmandu, majalahparlemen.com — Banjir besar yang menerjang aliran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli di Nepal serta wilayah Tibet, China, telah menewaskan sedikitnya 919 orang, sementara 4.793 orang masih belum ditemukan, berdasarkan data pemerintah Nepal dan laporan otoritas China hingga Senin (31/8/2026).

Di Nepal sendiri, 903 jenazah dan bagian tubuh manusia telah ditemukan, sedangkan 4.247 orang masih dinyatakan hilang. Data tersebut dikeluarkan National Disaster Risk Reduction and Management Authority (NDRRMA) Nepal dalam pembaruan operasi pencarian, penyelamatan dan bantuan pada Senin pagi.

The Kathmandu Post melaporkan, jumlah korban yang ditemukan tersebar di sejumlah distrik. Chitwan menjadi wilayah dengan temuan jenazah terbanyak, yakni 272, disusul Nawalparasi East 207, Nawalparasi West 151, Nuwakot 95, Gorkha 62, Dhading 55, Tanahun 37 dan Rasuwa 24.

Sebagian jenazah bahkan ditemukan ratusan kilometer dari lokasi awal bencana, setelah derasnya arus membawa korban dan material longsoran mengikuti aliran sungai.

Besarnya jumlah orang yang belum ditemukan menjadi persoalan terbesar dalam operasi penyelamatan Nepal. Nuwakot mencatat jumlah orang hilang tertinggi dengan 1.558 orang, disusul Rasuwa sebanyak 865 orang. Selain itu, terdapat 933 orang yang terkait dengan proyek pembangkit listrik tenaga air, 592 warga negara asing, serta 127 warga Nepal yang diketahui mendampingi wisatawan asing dan masih belum ditemukan.

Data pemerintah juga mencatat 65 orang hilang di Makawanpur, tiga orang di Langtang National Park, tiga orang di kantor imigrasi, tiga orang di kantor karantina dan 15 orang di kantor bea cukai.

Sebanyak 83 personel keamanan juga belum ditemukan, terdiri atas 45 anggota Nepali Army, 25 anggota Nepal Police dan 13 anggota Armed Police Force.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa tragedi ini tidak hanya menghantam masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai. Pekerja proyek energi, petugas keamanan, wisatawan dan warga asing juga ikut terseret dalam bencana.

Salah satu karakteristik bencana kali ini adalah kekuatan arus yang luar biasa. Material berupa air, lumpur, batu, es dan puing bangunan bergerak mengikuti jaringan sungai Bhotekoshi dan Trishuli. Karena itu, pencarian korban tidak lagi terbatas pada lokasi permukiman atau proyek yang terkena banjir secara langsung.

Tim penyelamat harus menyisir aliran sungai hingga jauh ke hilir. Temuan jenazah di Chitwan dan dua wilayah Nawalparasi menjadi gambaran betapa jauh korban dapat terbawa arus. Kondisi tersebut sekaligus membuat proses identifikasi semakin sulit.

Hingga Senin, jenazah yang belum teridentifikasi masih disimpan di 21 rumah sakit di berbagai distrik. Pemerintah Nepal kemudian menyediakan informasi mengenai korban yang belum teridentifikasi melalui kanal resmi NDRRMA dan portal bencana Nepal Police.

Selain korban meninggal dan hilang, pemerintah Nepal mencatat 267 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 156 orang telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan.

Enam tim medis khusus untuk penanganan bedah telah dikerahkan ke wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Sementara itu, operasi pencarian, penyelamatan dan bantuan terus diperluas. Pemerintah mengerahkan 20.819 personel keamanan ke berbagai wilayah terdampak.

Jumlah tersebut terdiri atas: 8.722 personel Nepali Army; 7.894 personel Nepal Police; dan 4.203 personel Armed Police Force.

Hingga Senin (31/8/2026), sebanyak 10.451 orang telah berhasil diselamatkan. Operasi udara menjadi salah satu instrumen utama karena banyak jalan dan jembatan rusak atau tertutup material longsoran. Sebanyak 411 penerbangan helikopter telah dilakukan, termasuk 17 penerbangan pada Senin.

Nepali Army sendiri telah mengevakuasi melalui udara 3.344 warga Nepal dan 252 warga negara asing. Dalam salah satu operasi pada Minggu, tujuh warga India dan 15 warga China berhasil dievakuasi dari lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air.

Bencana ini bermula pada 26 Agustus 2026, ketika kawasan pegunungan Himalaya di dekat perbatasan Nepal-China mengalami keruntuhan gletser dan longsoran besar.

Material es, batu dan tanah bergerak menuju lembah dan masuk ke sistem sungai. Aliran tersebut kemudian berkembang menjadi banjir bandang yang membawa material dalam jumlah sangat besar ke wilayah hilir.

Di Nepal, Sungai Bhotekoshi dan Trishuli menjadi jalur utama yang membawa air dan material bencana menuju wilayah yang lebih rendah.

Dampaknya meluas ke sejumlah distrik, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Gorkha, Tanahun, Makawanpur, Chitwan serta Nawalparasi.

Di sejumlah lokasi, permukaan air sungai naik sangat cepat sehingga warga hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan diri. *** Sumber: The Kathmandu Post (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *