AS Ancam Targetkan Listrik Iran, Ini Pola Serangan yang Pernah Terjadi

Ketegangan AS-Iran meningkat setelah ancaman serangan ke fasilitas listrik. Simak pola serangan serupa dalam Perang Teluk, Kosovo, dan Irak serta dampaknya bagi sipil.

Jakarta, majalahparlemen.com — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul ancaman terbaru dari Washington yang menyasar sektor vital energi, khususnya fasilitas pembangkit listrik.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz. Ia memberi tenggat waktu 48 jam agar jalur vital tersebut kembali dibuka sepenuhnya tanpa ancaman.

Dalam pernyataannya di Truth Social pada Sabtu (21/3/2026), Trump menegaskan bahwa jika Iran tidak mematuhi ultimatum tersebut, Amerika Serikat akan melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur energi, khususnya pembangkit listrik utama milik Iran.

Menanggapi hal itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan melakukan pembalasan setara, termasuk dengan menargetkan infrastruktur listrik di kawasan, jika serangan benar-benar terjadi.

Situasi ini menandai eskalasi serius, sekaligus menghidupkan kembali pola lama dalam strategi militer modern: menjadikan infrastruktur energi sebagai sasaran utama.

Dalam berbagai konflik sebelumnya, serangan terhadap listrik bukan hal baru. Infrastruktur ini dianggap sebagai “titik lumpuh” suatu negara karena menopang hampir seluruh sistem vital, mulai dari militer hingga kehidupan sipil.

Sejumlah laporan bahkan menyebutkan bahwa Pentagon telah menyiapkan berbagai skenario serangan terhadap Iran, termasuk opsi pengeboman besar-besaran terhadap fasilitas strategis negara tersebut.

Serangan terhadap sektor energi dinilai mampu memberikan efek berlapis: melumpuhkan komunikasi, memperlambat logistik, hingga menekan stabilitas sosial dan politik lawan.

Belajar dari Kasus Sebelumnya

Jika melihat ke belakang, pola serangan terhadap infrastruktur energi telah berulang kali digunakan dalam konflik yang melibatkan AS.

1. Perang Teluk 1991

Dalam Perang Teluk, jaringan listrik Irak dihancurkan secara sistematis. Dampaknya, sebagian besar wilayah mengalami pemadaman total yang melumpuhkan fasilitas militer sekaligus layanan publik.

2. Perang Kosovo 1999

Dalam Perang Kosovo, NATO menggunakan bom grafit untuk mematikan listrik di Yugoslavia tanpa menghancurkan fasilitas secara permanen. Strategi ini bertujuan menekan pemerintah tanpa kerusakan jangka panjang.

3. Invasi Irak 2003

Dalam Invasi Irak 2003, serangan kembali menyasar fasilitas “dual-use” termasuk listrik dan komunikasi, guna mempercepat runtuhnya sistem komando pemerintahan.

Iran Pernah Jadi Target Serangan AS

Konflik antara AS dan Iran sendiri bukan hal baru. Pada 2025, AS pernah menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan pesawat pembom siluman B-2.

Selain itu, operasi militer gabungan dengan Israel juga sempat terjadi pada 2026, dengan target fasilitas strategis di wilayah Iran.

Hal ini menunjukkan bahwa opsi militer terhadap Iran, termasuk terhadap infrastruktur vital, memang telah lama berada dalam perencanaan strategis Washington.

Risiko Eskalasi Lebih Luas

Pengamat menilai, jika fasilitas listrik benar-benar diserang, dampaknya tidak hanya bersifat militer tetapi juga kemanusiaan. Pemadaman listrik skala besar dapat mengganggu operasional rumah sakit, distribusi air, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Iran sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas secara proporsional, yang berpotensi menyeret konflik ke skala regional. *** (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *