
Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan akan memburu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah rumor di media sosial mengenai keberadaannya saat konflik Timur Tengah terus berlangsung.
Jakarta, majalahparlemen.com — Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat setelah konflik militer yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memasuki pekan kedua. Situasi tersebut tidak hanya memicu serangan balasan di lapangan, tetapi juga memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik, termasuk mengenai kondisi dan keberadaan sejumlah pemimpin politik di kawasan.
Dalam perkembangan terbaru, Iran menyatakan akan terus memburu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu di tengah beredarnya rumor di media sosial mengenai keberadaannya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) ketika konflik di kawasan memasuki hari ke-16, Minggu (15/3/2026).
Dalam pernyataan yang dikutip sejumlah media internasional, IRGC menyebut bahwa pihaknya akan “mengejar dan membunuh” Netanyahu apabila ia masih hidup. Pernyataan itu muncul di tengah berbagai spekulasi di media sosial yang mempertanyakan aktivitas publik pemimpin Israel tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Sebagian pengguna media sosial juga menyoroti sebuah video yang dirilis pada 12 Maret 2026. Dalam rekaman tersebut, sejumlah warganet menilai terdapat kejanggalan visual pada tangan Netanyahu yang tampak memiliki enam jari, sehingga memunculkan dugaan bahwa video tersebut telah mengalami manipulasi digital atau menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Video tersebut merupakan penampilan Netanyahu dalam konferensi pers pertamanya sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Dalam kesempatan itu, pemimpin Israel berusia 76 tahun tersebut menyampaikan pernyataan yang menyinggung kemungkinan perubahan kepemimpinan di Iran.
Ia menyatakan bahwa pemerintah Israel berupaya menciptakan kondisi yang dapat mendorong perubahan politik di Iran, meskipun menurutnya pergantian rezim pada akhirnya akan ditentukan oleh dinamika internal negara tersebut.
Sementara itu, kantor Netanyahu membantah kabar yang beredar mengenai kematian sang perdana menteri. Kepada Anadolu Agency, pihak kantor menyebut informasi yang beredar di media sosial sebagai berita palsu dan menegaskan bahwa Netanyahu berada dalam kondisi baik.
Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai spekulasi yang beredar luas di berbagai platform digital terkait aktivitas publik Netanyahu dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah pengguna media sosial juga menyoroti akun putra Netanyahu, Yair Netanyahu, yang biasanya aktif di platform X namun tidak memperbarui unggahan sejak 9 Maret 2026. Kondisi tersebut turut memicu berbagai spekulasi di ruang digital.
Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, dan memicu serangkaian serangan balasan.
Sejak saat itu, Iran melancarkan serangan terhadap Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat juga terus melakukan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Laporan berbagai media internasional menyebutkan bahwa konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, dengan sebagian besar korban berada di wilayah Iran.
Situasi keamanan yang belum stabil juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, yang selama ini memiliki peran penting dalam stabilitas geopolitik dan pasokan energi global. Sumber: NDTV Word. *** (raihan/sap)



















































