Seleksi Beasiswa Jepang Dimulai, Mendes Jamin Tanpa Intervensi

Mendes, Yandri Susanto menegaskan seleksi beasiswa ke Jepang tanpa intervensi. Peserta diharapkan kembali dan menciptakan lapangan kerja di desa.

Serang, majalahparlemen.com — Akses pendidikan internasional masih menjadi tantangan bagi sebagian generasi muda di perdesaan. Melalui program beasiswa ke Jepang, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) berupaya membuka kesempatan bagi anak muda desa untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing.

Namun, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto menegaskan proses seleksi program tersebut harus berlangsung berdasarkan kemampuan peserta, tanpa campur tangan pejabat maupun pihak lain.

Penegasan itu disampaikan Yandri saat membuka Seleksi Offline Beasiswa ke Jepang di Pondok Pesantren Bai Mahdi Soleh Makmun, Serang, Senin (2/11/2026).

Ia memastikan dirinya maupun kepala daerah tidak memiliki kewenangan untuk menentukan peserta yang dinyatakan lolos. Seluruh hasil seleksi, menurutnya, menjadi tanggung jawab peserta melalui kemampuan dan proses yang dijalani.

“Lulus tidak lulusnya ke Jepang tanggung jawab anak-anakku sekalian, bukan kendali saya, Ibu Bupati, atau lainnya,” tegas Yandri.

Ia meminta peserta mengikuti seluruh tahapan seleksi secara serius serta mendapat izin dan dukungan orang tua. Menurutnya, beasiswa tersebut merupakan kesempatan bagi generasi muda desa untuk memperoleh pendidikan, keterampilan, dan pengalaman di lingkungan internasional.

Yandri mengatakan, kesempatan belajar di Jepang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Program tersebut juga diharapkan membentuk karakter peserta, terutama dalam hal kedisiplinan, adab, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya setempat.

Ia mengingatkan peserta agar menghormati tata krama dan kebiasaan masyarakat Jepang selama mengikuti program pendidikan.

“Ini peluang yang sangat bagus. Cara Kemendes PDT mengangkat potensi anak-anak muda yang ada di desa. Jadi ini peluang yang sangat bagus, jangan sampai dilewatkan,” ujarnya.

Lebih jauh, Yandri berharap peserta yang menyelesaikan pendidikan di Jepang tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan. Mereka diharapkan kembali ke Indonesia dengan membawa pengetahuan dan keterampilan untuk membangun usaha serta menciptakan lapangan kerja di daerah asal.

Menurutnya, sejumlah program Kemendes PDT dapat menjadi ruang kolaborasi bagi lulusan program beasiswa tersebut. Di antaranya pengembangan Desa Ekspor, Desa Wisata, serta sektor kesehatan dan infrastruktur desa.

“Setelah dari Jepang jangan mencari pekerjaan, tapi ciptakan lapangan pekerjaan. Di Kemendes banyak programnya, ada Desa Ekspor, Desa Wisata, itu semua bisa jadi mitra untuk anak-anakku menciptakan lapangan kerja,” kata Yandri. *** (fatoni/raihan)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *