
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto menilai Desa Tuntang di Kabupaten Semarang berhasil memanfaatkan dana desa untuk budidaya lele, melon, dan ketahanan pangan berbasis BUMDes.
Semarang, majalahparlemen.com — Pengelolaan dana desa masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, terutama dalam mendorong program yang mampu menciptakan sumber pendapatan baru dan memperkuat ekonomi warga. Di tengah upaya pemerintah memperluas pembangunan berbasis potensi lokal, Desa Tuntang di Kabupaten Semarang dinilai berhasil mengembangkan sejumlah sektor produktif melalui pemanfaatan dana desa.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menilai Desa Tuntang, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, mampu mengoptimalkan potensi desa melalui budidaya ikan lele, penanaman melon, serta pengembangan peternakan kambing sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
Dalam kunjungan kerja pada Minggu (24/5/2026), Yandri menyebut pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Tuntang dapat menjadi contoh bagi desa lain dalam memanfaatkan dana desa untuk kegiatan produktif.
“Desa Tuntang layak menjadi contoh desa-desa di Indonesia karena menggunakan dana desa sesuai program Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal,” kata Yandri di hadapan warga desa.
Budidaya melon dan lele yang dijalankan BUMDes Tuntang Sejahtera disebut berhasil memenuhi kebutuhan pasar lokal sekaligus mendukung pendapatan desa. Pemerintah desa mencatat pendapatan desa pada 2026 mencapai sekitar Rp1,6 miliar yang berasal dari sejumlah sumber, termasuk pengelolaan usaha desa.
Program budidaya tersebut dibiayai dari alokasi 20 persen dana desa yang difokuskan pada ketahanan pangan. Model ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekonomi desa melalui pengembangan produk unggulan berbasis potensi wilayah masing-masing.
Selain sektor pangan, pemerintah juga mendorong pengembangan desa tematik sebagai bagian dari 12 rencana aksi strategis Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Program ini diarahkan untuk memperluas pasar produk desa, termasuk peluang ekspor komoditas pertanian dan perkebunan.
Menurut Yandri, sejumlah komoditas seperti jahe, kopi, pisang, kentang, dan bawang merah memiliki permintaan dari pasar internasional. Pemerintah, kata dia, tengah memetakan desa-desa yang dinilai siap menjadi desa ekspor melalui kerja sama dengan kementerian, lembaga, dan mitra luar negeri.
Dalam kunjungan tersebut, Yandri juga meninjau kantor Koperasi Desa Merah Putih yang telah selesai dibangun dan disiapkan untuk mendukung distribusi kebutuhan pokok masyarakat. Pemerintah desa menyatakan keberadaan koperasi tersebut diharapkan dapat memperkuat akses ekonomi warga tanpa menghambat pertumbuhan pelaku UMKM setempat.
Kunjungan kerja itu turut didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Kemendes PDT, Tabrani. *** (raihan/sap)



















































