Kurtubi Berharap Indonesia Mulai Membangun PLTN

Jakarta, Majalah Parlemen — Anggota Komisi VII DPR, Kurtubi mengatakan, China harus dijadikan contoh negara yang saat ini akan menjadi raksasa industri maju, karena memiliki jumlah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang terbilang banyak.

Kurtubi mengungkapkan hal itu usai melakukan kunjungan sebagai anggota delegasi ASEAN Energy Center dalam rangka mengunjungi PLTN Fangchenggeng di China, Minggu(15/4/2018) lalu.

“China mulai membangun PLTN Pertama kali sekitar tahun 1980-an dengan membeli teknologi dari luar. Dalam 2 – 3 dekade terakhir ini jumlah PLTN terus bertambah hingga saat ini menjadi sekitar 30 unit,” ujar Kurtubi kepada Majalah Parlemen, Kamis (19/4/2018).

Pada kunjunganya itu, Kurtubi melihat bahwa Negeri Tirai Bambu itu tengah membangun 4 unit PLTN untuk melengkapi 2 unit yang sudah beroperasi, sehingga dapat menambah daya hingga 6×1.200 MW. “Semua dibangun dengan teknologi dan komponen yang sepenuhnya dibuat sendiri,” kata Kurtubi.

Hal itu membuat terkejut rombongan delegasi yang hadir. Pasalnya, China yang semula hanya sebagai pengimpor PLTN kini menjadi bagian dari negara pengekspor PLTN. Termasuk teknologi nuklir non-energi di bidang kesehatan, pertanian, kabel listrik dan lainnya.

“Kemajuan China di bidang teknologi, inovasi dan industri nuklir sangat mencengangkan rombongan delegasi,” ujar politisi Partai Nasdem itu.

Sudah tidak dirgukan lagi, tambah Kurtubi, bahwa kemajuan ekonomi China tidak bisa dilepaskan dari kemajuan industri berbasis nuklir, serta kemampuan dalam menyediakan listrik yang cukup stabil dalam menunjang proses industrialisasi yang saat ini berlangsung.

Kurtubi berharap, pembangunan PLTN di Indonesia dapat segera dimulai pada periode ke-2 Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat. Dimana, lanjutnya, ekonomi akan bisa tumbuh lebih tinggi hingga menuju pertumbuhan di atas 7 persen.

“Ini perlu agar kita bisa mengejar ketertinggalan kita dari Korea, Jepang dan China”, kata anggota DPR dari Dapil Nusa Tenggara Barat ini. *** (nas/sap)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »