
Kemendes PDT menggandeng Universitas Muhammadiyah Sukabumi dalam pembangunan desa melalui pendekatan octahelix. Kerja sama difokuskan pada pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penguatan ekonomi desa.
Sukabumi, majalahparlemen.com — Upaya mempercepat pembangunan desa masih menghadapi tantangan keterbatasan sumber daya, pendampingan masyarakat, serta pengembangan potensi ekonomi lokal. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi salah satu pendekatan yang diperlukan untuk memperkuat kapasitas desa dan mendorong kemandirian masyarakat.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto mengajak Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) terlibat langsung dalam pembangunan desa melalui pendekatan octahelix yang menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu aktor utama pembangunan.
“Cita-cita mulia itu tidak mungkin dikerjakan satu atau dua orang, nggak cuma pemerintah yang bisa mengerjakannya dan nggak cuma Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Makanya saya ke sini untuk bangun tim dengan Universitas Muhammadiyah Sukabumi,” kata Yandri saat menghadiri Sidang Terbuka Senat Akademik dalam rangka Milad ke-23 UMMI di Sukabumi, Jumat (12/6/2026).
Pendekatan octahelix mengedepankan sinergi delapan unsur, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, komunitas, media, lembaga keuangan, serta teknologi dan inovasi. Dalam skema tersebut, perguruan tinggi berperan menyediakan kajian ilmiah, riset potensi desa, inovasi teknologi, serta pendampingan masyarakat.
Keterlibatan kampus dinilai dapat memperkuat proses pengembangan potensi desa melalui penerapan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat secara langsung di lapangan. Selain itu, perguruan tinggi juga diharapkan mampu mendorong lahirnya wirausaha baru berbasis potensi lokal.
Menurut Yandri, lulusan perguruan tinggi tidak hanya diarahkan menjadi pencari kerja, tetapi juga dapat menjadi pencipta lapangan kerja di daerah asalnya, termasuk di desa.
“Alumni UMMI tidak mesti mencari pekerjaan tapi bagaimana membuka lapangan kerja baru untuk rakyat. Kami di Kemendes siap untuk kerja sama melakukan hal itu membantu pemuda kembali ke desa. Jadi tinggal memang di desa tapi pendapatan seperti orang kota,” ujarnya.
Kementerian Desa dan PDT membuka peluang kolaborasi dengan kalangan akademisi melalui berbagai program strategis, termasuk pengembangan desa tematik, desa ekspor, dan desa wisata. Program-program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat desa.
Dalam kesempatan yang sama, Kemendes PDT dan UMMI menandatangani nota kesepahaman tentang peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat desa dan daerah tertinggal.
Kesepakatan tersebut menjadi dasar kerja sama antara kedua pihak untuk melibatkan dosen, mahasiswa, dan civitas akademika dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan pembangunan desa berbasis potensi lokal. *** (raihan/sap)



















































