KemenP2MI Buka Peluang Kerja Hospitality di Turkiye

KemenP2MI memfasilitasi wawancara calon pekerja migran Indonesia dengan pemberi kerja Turkiye untuk peluang kerja sektor hospitality melalui Program SMK Global.

Jakarta, majalahparlemen.com – Pemerintah membuka peluang kerja bagi calon pekerja migran Indonesia (CPMI) di sektor hospitality Turkiye. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) memfasilitasi wawancara langsung antara calon pekerja dan pemberi kerja dari Turkiye sebagai bagian dari proses seleksi tenaga kerja.

Kegiatan yang berlangsung di kantor KemenP2MI, Jakarta, Minggu (1/11/2026), dihadiri perwakilan perusahaan perhotelan Turkiye, sejumlah Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), serta Pasim Go Global Migrant Center. Pemberi kerja datang langsung untuk menilai kualifikasi dan kompetensi para kandidat.

Sekretaris Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN), Sri Andayani, membacakan sambutan Direktur Jenderal P3KLN Dwi Setiawan Susanto. Ia menyampaikan bahwa fasilitasi wawancara tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses kerja luar negeri melalui Program SMK Global.

Peningkatan daya saing pekerja migran, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan bahasa dan keterampilan teknis. Kompetensi calon pekerja juga harus sesuai dengan kebutuhan pemberi kerja, mulai dari seleksi hingga penempatan.

“Wawancara ini menjadi tahapan penting untuk memastikan kualifikasi dan kompetensi calon pekerja sesuai dengan kebutuhan pemberi kerja. Karena itu, proses seleksi harus dilakukan secara objektif, transparan, dan profesional,” kata Sri.

KemenP2MI juga menekankan bahwa perluasan kesempatan kerja harus disertai tata kelola penempatan dan pelindungan yang memadai. Calon pekerja diminta memahami prosedur, hak-hak selama bekerja, serta mekanisme perlindungan sebelum memutuskan berangkat ke luar negeri.

Sri mengingatkan para peserta agar menunjukkan keterampilan, kemampuan komunikasi, kedisiplinan, dan kesiapan mental selama mengikuti seleksi.

“Bekerja di luar negeri tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental. Mentalnya harus mental baja,” ujarnya.

KemenP2MI berharap proses wawancara dapat berlanjut ke tahapan seleksi dan pemenuhan persyaratan hingga penempatan sesuai kebutuhan pemberi kerja dan ketentuan yang berlaku. Pemerintah juga mendorong sinergi dengan lembaga pendidikan dan pelatihan, P3MI, serta mitra pemberi kerja untuk menyiapkan pekerja migran yang kompeten dan terlindungi. *** (fatoni/raihan)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *