Israel-Hamas Belum Sepenuhnya Sepakati Proposal Gencatan Senjata di Gaza

Gaza, majalahparlemen.com — Kelompok Hamas secara resmi menyatakan kesediaannya membebaskan 10 sandera Israel yang masih hidup serta menyerahkan jenazah 18 lainnya, sebagai bagian dari tanggapan atas proposal gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat. Namun, kelompok tersebut juga mengajukan sejumlah amandemen, termasuk tuntutan utama berupa gencatan senjata permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (28/5/2025), Hamas menegaskan kembali bahwa syarat utama mereka adalah penghentian total agresi militer, penarikan seluruh pasukan Israel, dan jaminan aliran bantuan kemanusiaan secara berkelanjutan ke wilayah yang terkepung. Tidak satu pun dari tuntutan ini, menurut Hamas, termuat dalam dokumen usulan yang disampaikan oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff.

“Hamas telah menyerahkan respons resmi terhadap proposal yang diajukan oleh Witkoff. Kami menegaskan kesiapan untuk berdialog namun menekankan bahwa solusi damai harus mencerminkan keadilan dan menghentikan penderitaan rakyat Palestina,” demikian pernyataan resmi kelompok tersebut.

AS dan Israel Tolak Amandemen Hamas
Menanggapi langkah Hamas, Witkoff menyebut balasan kelompok itu “tidak dapat diterima” dan menilai bahwa usulan amandemen justru menghambat kemajuan menuju perdamaian.

“Saya telah menerima tanggapan Hamas dan sangat kecewa. Itu bukan langkah maju, justru membawa kita mundur. Proposal ini dirancang sebagai dasar negosiasi tidak langsung, bukan untuk ditolak mentah-mentah,” ujarnya.

Pemerintah Israel juga menunjukkan ketidaksenangan atas sikap Hamas. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel telah menyetujui kerangka proposal Witkoff yang telah diperbarui. Namun, Hamas, menurut pernyataan itu, tetap menolak dengan menuntut syarat-syarat yang dianggap tidak realistis.

Isi Proposal AS
Meskipun belum dirilis secara resmi, sejumlah poin kunci dari proposal AS telah dilaporkan, antara lain:
1. Jeda pertempuran selama 60 hari
2. Pembebasan 28 sandera Israel (hidup maupun meninggal) pada pekan pertama
3. Pembebasan 30 sandera tambahan setelah gencatan senjata permanen ditegakkan
4. Pembebasan 1.236 tahanan Palestina serta penyerahan jenazah 180 warga Palestina
5. Pengiriman bantuan kemanusiaan melalui PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Proposal ini sebelumnya telah mendapat persetujuan awal dari pihak Israel sebelum disampaikan kepada Hamas. Namun, kelompok tersebut menyatakan bahwa tanpa jaminan gencatan senjata permanen, proposal itu tidak menjawab akar persoalan.

Kebuntuan Negosiasi
Masa depan proposal AS kini diragukan. PM Netanyahu menghadapi tekanan domestik yang tinggi untuk membawa pulang para sandera, namun juga menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga Hamas dilumpuhkan sepenuhnya.

Netanyahu menyatakan bahwa perang akan berakhir hanya jika Hamas dilucuti, kehilangan kendali atas Gaza, dan para pemimpinnya diasingkan. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyampaikan ultimatum keras, “Para pembunuh dari Hamas kini harus memilih: menerima kesepakatan atau dihancurkan.”

Respons Hamas
Menanggapi tekanan tersebut, pejabat senior Hamas, Basem Naim, mengatakan bahwa kelompoknya telah menunjukkan itikad baik dan bahkan sebelumnya sempat mencapai titik temu dengan Witkoff.

“Kami menyetujui sebuah proposal awal yang layak untuk dinegosiasikan. Namun, tanggapan Israel justru membatalkan seluruh poin kesepakatan. Mengapa hanya pendapat Israel yang dijadikan dasar negosiasi? Ini menunjukkan keberpihakan dalam proses mediasi,” tegasnya. *** Sumber : AFP (irvan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *