
Mendes, Yandri Susanto mendorong pengolahan limbah produk unggulan desa menjadi energi alternatif melalui program biomassa berbasis BUM Desa bersama PLN EPI.
Serang, majalahparlemen.com — Limbah hasil produksi pertanian dan berbagai produk unggulan desa masih menyimpan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Padahal, dengan dukungan teknologi pengolahan, material yang selama ini dianggap sebagai sampah dapat dikembangkan menjadi sumber energi alternatif sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, mendorong pemanfaatan limbah tersebut melalui pengembangan biomassa berbasis potensi lokal. Ia berharap hasil penelitian dan inovasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dapat diterapkan lebih luas di desa-desa.
Dorongan itu disampaikan Yandri saat peluncuran program Biomassa Berbasis Ekonomi Kerakyatan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) di GOR Jaya Baya, Desa Salira, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Yandri, perkembangan teknologi memungkinkan limbah turunan dari berbagai produk unggulan diolah menjadi energi yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan tersebut sekaligus dapat mengurangi material sisa produksi yang berpotensi menjadi beban lingkungan.
“Dulu mungkin orang melihat limbah, turunan dari produk-produk andalan, itu tidak ada manfaatnya. Itu ternyata dengan kecanggihan teknologi, dan terus dilakukan penelitian-penelitian, bahwa tadi yang dianggap sampah tidak berguna, cenderung membebani alam semesta, ternyata itu bisa kita geser menjadi energi alternatif,” kata Yandri.
Yandri mengingatkan agar peluncuran program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurut dia, keberhasilan program harus diukur dari tindak lanjut, komitmen para pihak, dan kemampuan desa mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Saya berharap betul, launching hari ini bukan sekadar seremonial. Tapi ini juga sebagai tonggak keseriusan kita, bukan hanya kita ingin gagah-gagahan Bapak/Ibu. Sebenarnya itu ujungnya tadi kita ingin memastikan. Potensi apa pun di desa bisa dimaksimalkan,” ujarnya.
Yandri juga meminta agar cakupan program diperluas. Program percontohan yang dimulai di tiga desa di Kabupaten Serang diharapkan tidak berhenti pada lokasi awal, tetapi dapat direplikasi di lebih banyak wilayah.
Ia menilai jumlah desa di Indonesia menjadi peluang besar untuk membangun ekosistem biomassa berbasis sumber daya lokal. Setiap desa memiliki karakteristik dan potensi limbah yang berbeda sehingga pendekatan pengolahannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Dengan jumlah 75.266 desa di Indonesia, Yandri menilai target pengembangan program tidak seharusnya hanya terbatas pada beberapa desa percontohan.
“Oleh karena itu, ini harus kita kawal, tidak boleh hanya sekadar launching. Tadi baru dua desa, targetnya jadi enam desa, sepuluh desa, itu terlalu sedikit menurut saya. Karena jumlah desa di Indonesia itu sebanyak 75.266 desa,” katanya.
Peluncuran program di Kabupaten Serang dihadiri Bupati Serang, Ratu Rachmatu Zakiyah, Direktur Utama PT PLN EPI, Rakhmad Dewanto, serta Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia, Hokkop Situngkir. Yandri hadir didampingi jajaran pimpinan tinggi madya dan pratama Kemendes PDT. *** (fatoni/raihan)




















































