
Sebanyak 22 negara berkoordinasi membahas keamanan Selat Hormuz di tengah gangguan pelayaran akibat konflik Iran, AS, dan Israel yang berdampak pada pasokan energi global.
Jakarta, majalahparlemen.com — Gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian sejumlah negara terhadap jalur distribusi energi global. Penutupan rute strategis tersebut berdampak langsung pada pasokan minyak dan LPG, yang memicu kenaikan harga energi di sejumlah negara.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Minggu (22/3/2026) menyatakan bahwa sebanyak 22 negara telah terlibat dalam pembahasan langkah-langkah untuk menjaga keamanan dan kelancaran navigasi di kawasan tersebut.
Menurut Rutte, koordinasi itu telah berlangsung sejak Kamis (19/3/2026), dengan sebagian besar peserta merupakan anggota NATO. Selain itu, sejumlah negara mitra seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga ikut serta dalam diskusi.
Ia menyebut, pembahasan difokuskan pada upaya memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali digunakan secara aman dalam waktu dekat, meskipun belum merinci bentuk langkah yang akan diambil.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyoroti peran NATO dalam merespons situasi di kawasan tersebut, termasuk terkait upaya membuka kembali akses pelayaran.
Rutte mengatakan, koordinasi masih berlangsung, seiring dengan situasi keamanan yang dinilai belum stabil. Ia menambahkan, pembahasan dilakukan bersama Amerika Serikat untuk menentukan bentuk respons yang akan diambil, termasuk waktu dan mekanismenya.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut diikuti oleh aksi balasan dari Iran yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut berdampak pada penghentian aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia. Kondisi ini turut memengaruhi stabilitas pasokan dan harga bahan bakar di pasar internasional.
Sejauh ini, belum ada kepastian mengenai kapan jalur tersebut dapat kembali beroperasi normal. Namun, koordinasi multilateral yang melibatkan negara-negara terkait menunjukkan adanya upaya untuk memulihkan fungsi jalur strategis tersebut di tengah dinamika keamanan kawasan. *** Sumber : Sputnik (raihan/sap)



















































