Iran Balas Serangan AS–Israel, Konflik Meluas ke Kawasan Teluk

Perang AS–Israel melawan Iran memasuki hari ketujuh dengan serangan balasan dan ketegangan yang meluas, memicu kekhawatiran konflik regional di Timur Tengah.

Jakarta, majalahparlemen.com — Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari ketujuh dengan eskalasi yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah. Serangan udara, rudal, dan drone terus terjadi di sejumlah wilayah Iran dan negara-negara Teluk, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik regional yang lebih besar.

Menurut data yang diolah dari Elizabeth Melimopoulos dan Kantor Berita Al Jazeera, pada Sabtu (6/3/2026), Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi militer mereka—yang diberi nama Operation Epic Fury—bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran, terutama sistem pertahanan udara serta fasilitas peluncuran rudal.

Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), biaya operasi militer dalam 100 jam pertama diperkirakan mencapai sekitar 3,7 miliar dolar AS, sebagian besar di luar anggaran militer yang telah direncanakan sebelumnya.

Serangan Udara Intensif di Iran

Militer Israel mengklaim telah melancarkan ribuan serangan udara terhadap berbagai target militer Iran sejak operasi dimulai. Target yang disasar meliputi peluncur rudal balistik, fasilitas penyimpanan drone, serta jaringan pertahanan udara.

Serangan paling intens dilaporkan terjadi di wilayah Iran bagian barat, yang disebut menjadi lokasi sejumlah instalasi militer strategis. Israel juga menyatakan telah merusak sebagian besar sistem pertahanan udara Iran sehingga memungkinkan operasi udara yang lebih leluasa.

Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang serangan terbaru terhadap Israel dengan menggunakan kombinasi rudal dan drone. Sistem pertahanan udara Israel dilaporkan berhasil mencegat sebagian proyektil yang menuju wilayahnya.

Ketidakpastian Politik di Teheran

Perkembangan konflik juga diikuti ketegangan politik di Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang menghantam Teheran.

Isu mengenai suksesi kepemimpinan pun muncul, dengan nama putranya Mojtaba Khamenei disebut-sebut sebagai kandidat pengganti.

Namun Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan menerima kepemimpinan tersebut dan mengisyaratkan keinginan untuk terlibat dalam proses politik di Iran.

Pernyataan itu memicu reaksi keras dari pejabat Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani memperingatkan bahwa negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat dan mengancam akan menyerang pasukan Amerika jika operasi militer diperluas.

Konflik Menyebar ke Kawasan Teluk

Dampak perang mulai dirasakan di berbagai negara Teluk.

Di Kuwait, Amerika Serikat menghentikan sementara aktivitas di kedutaannya setelah sejumlah serangan balasan Iran di kawasan tersebut. Sistem pertahanan udara negara itu dilaporkan berhasil mencegat beberapa rudal dan drone.

Sementara di Bahrain, sebuah rudal menghantam fasilitas kilang minyak milik negara dan memicu kebakaran yang kemudian berhasil dikendalikan.

Uni Emirat Arab juga melaporkan berhasil menembak jatuh sejumlah rudal dan lebih dari seratus drone yang diduga berasal dari Iran. Di Qatar, ledakan terdengar di ibu kota Doha setelah sistem pertahanan udara negara itu merespons serangan serupa.

Situasi keamanan yang memburuk membuat puluhan ribu warga asing mulai meninggalkan kawasan Timur Tengah, termasuk sekitar 20.000 warga Amerika Serikat yang telah dievakuasi atau pulang secara mandiri.

Israel Jadi Sasaran Serangan Balasan

Iran menyatakan telah melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah Israel, termasuk kota Tel Aviv.

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, otoritas Israel menutup sejumlah lokasi penting di Kota Tua Yerusalem dan membatasi aktivitas publik.

Pejabat Israel juga mengeluarkan peringatan keras kepada kelompok yang dianggap bersekutu dengan Iran di kawasan. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bahkan menyatakan bahwa wilayah Dahiyeh di Lebanon dapat mengalami kehancuran seperti kota Khan Younis di Gaza selatan yang rusak parah dalam konflik sebelumnya.

Dampak Ekonomi Global

Perang yang terus berlangsung juga mulai mengguncang pasar keuangan global. Indeks saham utama Amerika Serikat, Dow Jones Industrial Average, sempat turun lebih dari seribu poin di tengah kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan penghasil energi dunia.

Harga minyak internasional juga menunjukkan tren kenaikan karena risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, bahkan memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan dapat menekan ekonomi negara-negara berkembang melalui lonjakan harga energi dan pangan.

Kekhawatiran Perang Regional

Sejumlah negara Eropa mulai mengambil langkah antisipasi. Inggris dan Prancis mengerahkan kapal perang dan sistem pertahanan udara ke wilayah Laut Mediterania timur untuk melindungi kepentingan sekutu.

Sementara itu beberapa negara lain seperti Jerman mulai menarik sebagian pasukan militernya dari kawasan Teluk sebagai langkah pengamanan.

Para analis menilai eskalasi konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang regional jika serangan terus meluas dan melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah. *** (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *