Thailand–Kamboja Setuju Bertemu di Malaysia, Akhiri Perang di Perbatasan

Jakarta, majalahparlemen.com — Upaya diplomasi regional kembali diuji setelah Thailand dan Kamboja sepakat menggelar pertemuan damai di Malaysia, menyusul konflik bersenjata yang telah menewaskan sedikitnya 34 orang dan memaksa lebih dari 160 ribu warga mengungsi.

Pertemuan tingkat tinggi antara Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, dijadwalkan berlangsung Senin (28/7/2025) di Kuala Lumpur. Forum tersebut difasilitasi langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN 2025.

“Thailand dan Kamboja telah menyampaikan komitmen lisan untuk menghentikan permusuhan bersenjata dan menarik pasukan dari garis perbatasan,” ujar Anwar seperti dikutip Malaysiakini, Jumat (25/7/2025). Namun, ia menegaskan bahwa proses penarikan pasukan memerlukan waktu dan jaminan kondisi lapangan yang aman.

Ketegangan di kawasan dimulai dari kontak tembak pada Mei 2025 yang menewaskan seorang tentara Kamboja. Puncaknya terjadi pada 23 Juli 2025, saat Thailand menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan memerintahkan pengusiran duta besar Kamboja di Bangkok.

Konflik kemudian bereskalasi menjadi serangan udara. Militer Thailand mengonfirmasi penembakan rudal dari jet tempur F-16 ke wilayah Kamboja pada Kamis (24/7/2025), menargetkan pos militer di wilayah sengketa.

Bentrokan bersenjata kini meluas ke 12 titik di sepanjang perbatasan, termasuk wilayah Kap Choeng dan Provinsi Surin, Thailand. Kedua belah pihak saling tuding sebagai pemicu serangan. Kolonel Richa Suksowanont dari militer Thailand menyebut pasukan Kamboja menyerang area sipil dan situs bersejarah Ta Muen Thom, sementara Phnom Penh menuduh Thailand melancarkan invasi darat menggunakan tank dan senjata berat.

Hingga Minggu (27/7/2025), tercatat 21 korban jiwa di Thailand—mayoritas warga sipil—dan 13 korban di Kamboja, termasuk tentara dan penduduk sipil. Lebih dari 168 ribu orang telah dievakuasi ke ratusan pos pengungsian.

Di tengah tekanan dunia, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan tidak akan melanjutkan kerja sama dagang dengan kedua negara jika konflik tak segera diakhiri. Ia mengklaim telah berbicara langsung dengan kedua pemimpin dan mendorong pelaksanaan gencatan senjata.

Kamboja menyatakan kesiapannya menghentikan perang tanpa syarat, dan telah menunjuk Menlu Prak Sokhonn untuk bekerja sama dengan mitra regional, termasuk AS dan Thailand. Di sisi lain, Thailand menyambut positif namun tetap menekankan perlunya “niat tulus dari Kamboja”.

Sementara gencatan senjata mulai dibicarakan, tembakan artileri masih terdengar di beberapa wilayah hingga akhir pekan. Desa-desa di perbatasan tampak sepi. Sekolah, pasar, hingga rumah sakit ditutup, menyisakan kekhawatiran dan trauma warga sipil.

“Saya hanya ingin pulang, saya ingin anak saya sekolah lagi,” ujar Bualee Chanduang, seorang pedagang dari Provinsi Surin, dengan mata berkaca. *** (raihan/sap)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *