
Kemendes PDT dan Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyiapkan kerja sama peningkatan literasi karantina bagi kepala desa dan pengembangan desa ekspor berbasis biosekuriti.
Jakarta, majalahparlemen.com — Peningkatan aktivitas perdagangan dan distribusi komoditas dari desa ke pasar domestik maupun ekspor membawa tantangan baru dalam pengawasan mutu dan keamanan produk. Di banyak daerah, pemahaman aparatur desa mengenai sistem karantina, biosekuriti, serta standar ekspor masih dinilai terbatas, padahal desa mulai didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) berencana memperkuat kerja sama dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) guna meningkatkan literasi karantina di tingkat desa.
Rencana itu disampaikan Yandri Susanto saat menerima Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, Senin (11/6/2026).
Yandri mengatakan, masih banyak kepala desa dan perangkat desa yang belum memahami secara rinci mengenai sistem karantina dan standar pengawasan komoditas.
“Jumlah kepala desa itu 75.266 dan kami melihat masih minim literasi karantina. Untuk itu, kami mengajak Barantin untuk MoU dan PKS untuk mempertebal literasi karantina,” kata Yandri.
Menurut dia, peningkatan pemahaman tersebut penting agar desa dapat lebih siap menghadapi pengembangan komoditas unggulan, termasuk kebutuhan standar ekspor dan pengawasan lalu lintas produk pertanian maupun perikanan.
Kemendes PDT juga berencana melibatkan delapan asosiasi desa yang menjadi mitra kementerian, termasuk APDESI Merah Putih, PAPDESI, dan PABPDSI. Selain kepala desa, program literasi itu juga akan menyasar sekitar 34.000 tenaga pendamping desa.
Sementara itu, Abdul Kadir Karding mengatakan, desa kini menjadi bagian penting dalam rantai pembangunan ekonomi nasional, terutama dalam pengembangan komoditas berbasis ekspor. Namun, menurut dia, sebagian desa masih menghadapi kendala pada aspek standardisasi mutu dan sertifikasi produk.
Ia mengusulkan penguatan sinergi melalui program Desa Ekspor Berbasis Biosekuriti dan Mutu Terjamin. Dalam skema tersebut, Kemendes PDT akan memperkuat kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kapasitas produksi masyarakat, hingga infrastruktur desa.
Adapun Barantin akan menyiapkan dukungan berupa sistem biosekuriti, pengawasan lalu lintas komoditas, standar sanitary dan phytosanitary, serta fasilitas gerbang ekspor.
Sejumlah program yang diusulkan dalam kerja sama itu antara lain Desa Berbasis Biosekuriti, satu desa satu komoditas ekspor, Klinik Karantina Desa, BUMDes Export Hub, Sekolah Lapang Karantina, hingga sistem digital traceability desa.
Menurut Barantin, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu desa menjadi lebih siap dalam memenuhi standar perdagangan sekaligus memperkuat perlindungan terhadap hama dan penyakit pada komoditas.
Turut mendampingi Mendes PDT dalam pertemuan tersebut antara lain Sekretaris Jenderal Kemendes PDT Taufik Madjid, Kepala BPI Mulyadin Malik, Kepala BPSDM Agustomi Masik, Dirjen PEID Tabrani, serta Staf Ahli Sugito. *** (raihan/sap)



















































