
Wamen P2MI, Christina Aryani meninjau pelatihan 100 peserta SMK Go Global di Poltekpar NHI Bandung untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia ke pasar internasional.
Bandung, majalahparlemen.com — Kesiapan keterampilan teknis dan kemampuan berbahasa asing menjadi tantangan bagi calon pekerja migran Indonesia yang ingin bersaing di pasar kerja internasional. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah menjalankan program SMK Go Global yang membekali peserta dengan keterampilan sesuai bidang pekerjaan yang dituju.
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, meninjau pelatihan program tersebut di Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia berdialog dengan peserta mengenai proses pelatihan, peningkatan keterampilan teknis, dan pembelajaran bahasa Inggris.
Pelatihan berlangsung pada 5 Oktober hingga 20 November 2026 dengan melibatkan 100 peserta yang telah melewati seleksi. Mereka dibagi ke dalam lima bidang, yakni housekeeping, cleaner, barista, waiter, dan cook, masing-masing diikuti 20 orang.
Selain keterampilan teknis, peserta mendapat pelatihan bahasa Inggris untuk menunjang komunikasi di lingkungan kerja internasional. Program ini dijadwalkan diakhiri dengan uji kompetensi guna menilai kemampuan peserta setelah mengikuti pelatihan.
Christina meminta peserta memanfaatkan pelatihan untuk memperkuat keterampilan, kedisiplinan, dan kepercayaan diri sebelum memasuki dunia kerja internasional. Menurut dia, kesiapan kompetensi menjadi salah satu faktor penting agar calon pekerja migran dapat memenuhi kebutuhan pemberi kerja di luar negeri.
Program SMK Go Global merupakan inisiatif yang diarahkan untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mampu mengisi peluang kerja di luar negeri. Namun, keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar dan tersedianya jalur penempatan kerja yang jelas.
Informasi mengenai negara tujuan, jumlah peserta yang akan ditempatkan setelah pelatihan, serta mitra pemberi kerja untuk angkatan ini belum dirinci. Karena itu, hasil akhir program perlu dilihat dari capaian uji kompetensi dan tindak lanjut penempatan peserta, bukan semata-mata jumlah orang yang mengikuti pelatihan.
Sebelum mengunjungi Poltekpar NHI, Christina bertemu dengan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Pertemuan tersebut membahas sinergi untuk memperluas peluang penempatan pekerja migran Indonesia di Jepang, khususnya pada sektor caregiver dan konstruksi. *** (fatoni/raihan)


















































