
Festival Walet Emas 2026 di Jakarta menyoroti peran komunitas perantau dalam menjaga integrasi sosial dan harmoni budaya melalui kegiatan seni, ekonomi, dan silaturahmi.
Jakarta, majalahparlemen.com — Integrasi sosial di kawasan perkotaan dengan latar belakang masyarakat yang beragam menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kohesi sosial. Komunitas perantau dinilai memiliki peran dalam merawat hubungan sosial sekaligus mempertahankan identitas budaya di ruang publik.
Anggota DPD RI asal Provinsi DKI Jakarta, Achmad Azran menghadiri Festival Walet Emas 2026 yang digelar di Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (26/4/2026). Ia hadir bersama Alfiansyah Komeng dalam kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Halalbihalal dan peringatan Hari Kartini dengan tema “Perempuan Berdaya untuk Indonesia Maju”.
Festival tersebut diselenggarakan oleh komunitas IWAKK Walet Emas sebagai wadah silaturahmi warga asal Kebumen yang bermukim di Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan berbagai unsur masyarakat serta perwakilan pemerintah pusat dan daerah.
Dalam keterangannya, Azran menyampaikan bahwa jaringan sosial yang terjaga di kalangan perantau dapat berkontribusi pada integrasi masyarakat perkotaan. Ia menyoroti peran komunitas dalam menjaga keterikatan budaya sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Silaturahmi adalah fondasi penting dalam kehidupan berbangsa. Masyarakat perantauan seperti warga Kebumen menunjukkan kemampuan menjaga budaya sekaligus berkontribusi dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Acara tersebut menampilkan berbagai kegiatan budaya dan ekonomi. Pertunjukan seni tradisional seperti wayang kulit dan kuda lumping dipadukan dengan kesenian Betawi, mencerminkan interaksi budaya di ibu kota. Selain itu, bazar UMKM dan kuliner daerah turut menjadi bagian dari penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Dalam rangka mendukung akses kebutuhan pokok, panitia juga menghadirkan program Gerakan Pangan Murah dengan sejumlah komoditas yang ditawarkan di bawah harga pasar. Pengunjung juga mengikuti kegiatan interaktif serta pembagian doorprize.
Festival ini mengusung nilai “Wani lan Ulet” (berani dan ulet) serta “Eling marang asal” yang menekankan pentingnya menjaga asal-usul. Nilai tersebut mencerminkan karakter komunitas perantau dalam mempertahankan identitas sekaligus beradaptasi di lingkungan baru.
Menurut Azran, keberagaman budaya yang hadir dalam kegiatan tersebut menunjukkan potensi integrasi sosial yang dapat mendukung persatuan nasional. Ia menyebut interaksi lintas budaya di ruang publik sebagai bagian dari dinamika masyarakat Indonesia.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan ini, antara lain Donny Ermawan Taufanto, Sita Komala Dewi, Lilis Nuryani, dan Munjirin, serta perwakilan kementerian dan tokoh masyarakat lainnya.
Kegiatan ini mencerminkan peran komunitas dalam membangun keterhubungan sosial, sekaligus memperlihatkan interaksi budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan. *** (raihan/sap)



















































