
KemenP2MI menggelar Skill Test G to G Korea Selatan sektor perikanan yang diikuti 1.063 CPMI di Semarang. Peserta didorong terus meningkatkan kompetensi, kemampuan bahasa Korea, dan kesiapan mental untuk bersaing di pasar kerja internasional.
Semarang, majalahparlemen.com — Persaingan penempatan tenaga kerja di pasar internasional menuntut calon pekerja migran memiliki kompetensi yang semakin tinggi. Selain keterampilan teknis sesuai sektor pekerjaan, penguasaan bahasa dan kesiapan mental menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang lolos seleksi di negara tujuan.
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggelar Skill Test UBT Umum Sektor Perikanan Program Government to Government (G to G) Korea Selatan di MG Setos Hotel, Semarang, pada Sabtu-Minggu (4-5/7/2026). Sebanyak 1.063 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) mengikuti tahapan seleksi tersebut.
Direktur Jenderal Penempatan KP2MI, Ahnas, mengingatkan peserta agar menjadikan skill test sebagai bagian dari proses pengembangan diri, bukan tujuan akhir. Menurutnya, peningkatan kompetensi di bidang perikanan dan kemampuan berbahasa Korea perlu terus dilakukan agar mampu bersaing dalam proses seleksi tenaga kerja internasional.
Baca juga :
WamenP2MI Christina: Aplikasi All Indonesia Permudah Layanan Publik untuk Pekerja Migran
“Jangan hanya mengikuti skill test lalu berhenti belajar. Terus tingkatkan kemampuan di bidang perikanan dan penguasaan bahasa. Kalau sekarang belum bisa, mulai sekarang terus belajar bahasanya,” kata Ahnas, Minggu (5/7/2026).
Ia menjelaskan, peserta asal Indonesia akan bersaing dengan calon pekerja dari 16 negara lain yang juga mengikuti program penempatan ke Korea Selatan. Kondisi tersebut membuat peningkatan keterampilan menjadi salah satu faktor penentu dalam proses seleksi.
“Kita bersaing dengan 16 negara yang juga menempatkan pekerjanya ke Korea Selatan. Artinya, mulai sekarang harus terus berjuang meningkatkan kemampuan, khususnya di bidang perikanan,” ujarnya.
Selain aspek teknis, KP2MI juga menekankan pentingnya kesiapan mental bagi calon pekerja migran sebelum berangkat ke luar negeri. Menurut Ahnas, kemampuan beradaptasi, etos kerja, dan ketahanan mental menjadi modal yang dibutuhkan saat menghadapi lingkungan kerja di negara penempatan.
“Sikap mental juga penting. Kesiapan bekerja dan kesiapan mental harus terus dibina sejak sekarang, bersamaan dengan peningkatan kompetensi,” tuturnya.
Skill test tersebut diikuti peserta dari 20 provinsi di Indonesia, antara lain Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, sejumlah provinsi di Sumatra, hingga berbagai daerah di Pulau Jawa. *** (raihan/sap)



















































